Ziarah Muslimat NU Jati Agung, 100 Jamaah Padati Makam KH Gholib
- account_circle Andi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Ziarah Muslimat NU Jati Agung Kenang Jejak Dakwah KH Gholib
Lampung Selatan, Tipikal.id — Ziarah Muslimat NU Jati Agung kembali memperkuat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kegiatan ini juga menjadi momen mengenang perjuangan ulama penyebar syiar Islam di Provinsi Lampung.
Sebanyak 100 pengurus dan anggota PAC Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Jati Agung mengikuti ziarah tahunan. Mereka berziarah ke makam Maulana Syaikh KH Gholib di Kabupaten Pringsewu dan makam Al-Maghfurlah Syeikh Muhammad Nur Abdurrohim Busthomil Karim di Kabupaten Lampung Tengah, Ahad (26/7/2026).
Rombongan berangkat dari Kecamatan Jati Agung sekitar pukul 08.30 WIB dengan dua bus. Mustasyar MWCNU Jati Agung sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Darussalamah, KH Nurkholis Ahmad, memimpin kegiatan tersebut.
Ketua PAC Muslimat NU Jati Agung, Bu Nyai Siti Munawaroh, memimpin bus pertama. Sementara itu, Wakil Ketua I PAC Muslimat NU Jati Agung, Bu Nyai Mulyani, memimpin bus kedua.
Rois Syuriah MWCNU Jati Agung Kyai Masduki dan Sekretaris MWCNU Jati Agung Ustadz Nurrohim turut mendampingi seluruh rangkaian ziarah.
-
Jamaah Gelar Tahlil dan Doa di Makam KH Gholib
Rombongan tiba di kompleks makam Maulana Syaikh KH Gholib sekitar pukul 10.30 WIB.
Seluruh jamaah mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH Nurkholis Ahmad. Setelah itu, Abah Yai Masduki memimpin doa bersama.

Sebelum tahlil dimulai, KH Nurkholis Ahmad mengajak jamaah mengenang jasa para ulama yang menyebarkan Islam di Provinsi Lampung.
“Alhamdulillah atas izin Allah pada pagi hari ini kita semua berada di makam Waliyyun min Auliyāillāh, Maulana Syaikh KH Gholib. Beliau merupakan pejuang Islam di Pulau Sumatera, khususnya di Provinsi Lampung. Mungkin kita semua memiliki hutang jasa kepada beliau, karena keberkahan perjuangannya masih kita rasakan hingga hari ini di Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai,” tutur KH Nurkholis Ahmad.
-
KH Gholib Berjuang Lewat Dakwah, Pendidikan, dan Kemerdekaan
Maulana Syaikh KH Gholib berasal dari Mojosantren, Krian, Jawa Timur. Beliau hijrah ke Pringsewu pada akhir dekade 1920-an.
Di Lampung, beliau membangun masjid, mendirikan madrasah, dan membina masyarakat melalui pendidikan serta dakwah Islam.
Saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, KH Gholib memimpin Laskar Hizbullah di wilayah Lampung. Beliau juga ikut berjuang melawan penjajah.
Karena pengabdiannya, masyarakat Lampung mengenang KH Gholib sebagai salah satu tokoh besar Islam di daerah tersebut.
-
Ziarah Menjadi Sarana Mengenang Jasa Ulama
Dalam tausiyahnya, KH Nurkholis Ahmad menegaskan bahwa ziarah bukan sekadar mengunjungi makam. Ziarah juga menjadi sarana mengenang perjuangan ulama dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui wasilah para kekasih-Nya.
“Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah dengan wasilah beliau. Mudah-mudahan apa yang menjadi hajat kita, baik hajat dunia maupun hajat akhirat, semuanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Ia juga mengutip hadis yang masyhur tentang memuliakan para ulama.
مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا زَارَنِي، وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا جَالَسَنِي، وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِي.
“Barang siapa mengunjungi seorang alim, maka seakan-akan ia mengunjungiku. Barang siapa duduk bersama seorang alim, maka seakan-akan ia duduk bersamaku. Dan barang siapa berjabat tangan dengan seorang alim, maka seakan-akan ia berjabat tangan denganku.”
Selanjutnya, KH Nurkholis Ahmad mengajak jamaah menjaga adab saat berdoa dan memperbanyak munajat kepada Allah SWT.
“Ketika kita berziarah ke makam kekasih-kekasih Allah, salah satunya Maulana Syaikh KH Gholib ini, mudah-mudahan kita semua pulang membawa keberkahan. Yang belum mendaftar haji semoga Allah mudahkan rezekinya sehingga bisa berhaji, dan yang belum umrah semoga segera menjadi tamu Allah di Tanah Suci Makkah dan Madinah,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap doa diawali dengan mendoakan kedua orang tua, para guru, dan para ulama.
“Gunakan adab ketika meminta kepada Allah. Doakan kedua orang tua kita, guru-guru kita, khususnya Maulana Syaikh KH Gholib. Setelah itu mintalah kepada Allah agar anak cucu kita diberikan keturunan yang saleh dan salehah. Mudah-mudahan seluruh hajat kita, baik urusan dunia maupun akhirat, dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pesannya.
-
Nyai Siti Munawaroh: Ziarah Perkuat Tradisi Aswaja dan Cinta Ulama
Ketua PAC Muslimat NU Jati Agung, Bu Nyai Siti Munawaroh, mengatakan ziarah tahunan menjadi ikhtiar menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kegiatan ini juga mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kecintaan kepada para ulama.
“Alhamdulillah, ziarah ini bukan sekadar mengunjungi makam para ulama, tetapi menjadi momentum mengenang perjuangan mereka, mempererat ukhuwah, serta memohon keberkahan kepada Allah SWT,” ujar Bu Nyai Siti Munawaroh.
Ia berharap tradisi tersebut terus membawa manfaat bagi seluruh jamaah dan memperkuat semangat khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Semoga tradisi ini terus terjaga dan semakin menumbuhkan kecintaan kepada para ulama serta semangat berkhidmah di Nahdlatul Ulama,” tambahnya.
-
Suasana Khidmat Iringi Tahlil dan Doa Bersama
Abah Yai Masduki memimpin doa bersama yang diikuti seluruh jamaah.
Mereka memohon ampunan, kesehatan, keberkahan, kemudahan rezeki, serta keselamatan dunia dan akhirat.

Setelah tahlil dan doa selesai, jamaah melanjutkan munajat secara pribadi di area makam. Lantunan tahlil, zikir, dan doa terus menggema.
Sebagian jamaah menengadahkan tangan dengan mata berkaca-kaca. Jamaah lainnya khusyuk berdoa di sisi pusara ulama yang mereka hormati.
Suasana khidmat menyelimuti rombongan. Mereka berharap memperoleh keberkahan melalui wasilah para kekasih Allah SWT.
-
Rombongan Lanjut Berziarah ke Makam KH Busthomil Karim
Usai berziarah di makam KH Gholib, rombongan melanjutkan perjalanan ke makam Al-Maghfurlah Syeikh Muhammad Nur Abdurrohim Busthomil Karim di Kabupaten Lampung Tengah.
KH Busthomil Karim dikenal sebagai ulama kharismatik, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatus Sholihin Purwosari, Kecamatan Padang Ratu, Lampung Tengah.
Beliau hijrah dari Kebumen, Jawa Tengah, ke Lampung pada 1952. Sejak itu, beliau mengabdikan hidupnya untuk berdakwah, membina umat, dan mengembangkan pendidikan Islam. Beliau juga melahirkan banyak ulama dan tokoh agama.
Hingga kini, makam KH Busthomil Karim menjadi salah satu tujuan ziarah ulama di Lampung.
Ribuan jamaah rutin berziarah, terutama saat haul beliau. Mereka mengenang jasa dan keteladanan beliau dalam berdakwah, membangun pesantren, dan membimbing umat.
Bagi PAC Muslimat NU Jati Agung, ziarah bukan sekadar perjalanan religi. Kegiatan ini menjadi ikhtiar menjaga tradisi Aswaja, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan menanamkan kecintaan kepada para ulama.
Menjelang siang, dua bus kembali melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Lampung Tengah. Sepanjang perjalanan, jamaah melantunkan selawat dan memanjatkan doa agar Allah SWT mengabulkan hajat mereka serta memberikan keberkahan bagi kehidupan, keluarga, agama, bangsa, dan Nahdlatul Ulama. (Red)
- Penulis: Andi



