Usia Anak Masuk SD Ideal Menurut Psikologi dan Aturannya
- account_circle Andi
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- print Cetak

Usia Anak Masuk SD Jadi Sorotan dalam Aturan Baru SPMB
Jakarta, TIPIKAL.ID — Usia anak masuk SD menjadi perhatian setelah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan bahwa anak usia 5-6 tahun dapat masuk Sekolah Dasar pada 2026. Namun, kebijakan tersebut berlaku dengan syarat kesiapan belajar dan kematangan psikologis anak.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa usia masuk SD tidak harus 7 tahun.
“Jadi untuk SPMB SD ada pengecualian usia anak, tapi ada catatan. Jadi kuncinya adalah anak siap untuk mengikuti pembelajaran di SD,” kata Gogot di sela acara penandatanganan komitmen bersama SPMB RAMAH 2026/2027 di Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
Selain itu, aturan baru tersebut memunculkan pertanyaan terkait usia ideal anak masuk sekolah menurut psikologi perkembangan.
-
Psikolog Sebut Kesiapan Anak Lebih Penting dari Usia
Psikolog dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, menjelaskan bahwa kesiapan anak masuk sekolah berbeda-beda. Menurutnya, kematangan belajar dapat muncul sejak usia 5 atau 6 tahun, tergantung stimulasi yang diterima anak.
“Kalau stimulasi bagus, anak pasti matang ke sekolah. Kenapa usia 7 tahun matang? Karena itu diambil pada usia kematangan rata-rata,” kata Guru Besar di Fakultas Psikologi UNS tersebut.
Sementara itu, pakar psikologi perkembangan Universitas Sebelas Maret (UNS), Afia Fitriana SPsi MPsi, menyebut kesiapan belajar harus menjadi dasar utama penentuan usia masuk SD.
“Aspek-aspek perkembangan umum yang perlu diperhatikan, termasuk perkembangan belajar, perkembangan gerak, perkembangan bicara, perkembangan diri, dan perkembangan kontrol tangan,” jelasnya.
-
Indikator Anak Siap Masuk SD Menurut Psikologi
Afia menjelaskan beberapa indikator kesiapan anak masuk SD. Pertama, anak mampu mengatur diri selama proses belajar berlangsung.
“Misalnya, ketika seorang anak sedang bersenang-senang saat istirahat dan harus berhenti bermain dan melanjutkan belajar, jika anak tersebut dapat mengendalikan keinginannya untuk terus bermain, sambil cepat beradaptasi dengan lingkungan kelas, maka anak tersebut sudah siap,” ujar Afia.
Kedua, anak menunjukkan perkembangan gerak yang baik, seperti melompat, berlari, dan mengendalikan gerakan tubuh secara seimbang.
Ketiga, anak mampu memahami arahan dan merespons komunikasi dengan baik. Selain itu, anak juga perlu memiliki rasa percaya diri serta kemampuan mengelola diri.
Afia juga menekankan pentingnya stimulasi dari orang tua sejak dini.
“Kita juga bisa merangsang perkembangan anak sambil mengajarkan mereka keterampilan hidup, seperti memakai sepatu dari kaki kanan terlebih dahulu atau mempersiapkan mereka untuk belajar membaca dari sisi kiri. Kita juga bisa mengajari mereka cara berhitung, memahami banyak dan sedikit atau lebih besar dan lebih kecil,” ungkap Afia.
-
Aturan Baru Usia Anak Masuk SD Tahun 2026
Sebelumnya, usia minimal masuk SD ditetapkan 7 tahun per 1 Juli. Namun, Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025 kini memperbolehkan anak usia 6 tahun untuk mendaftar SD.
Selain itu, anak usia minimal 5 tahun berjalan juga dapat mendaftar jika memiliki kecerdasan atau bakat istimewa serta kesiapan psikis. Sekolah wajib meminta rekomendasi tertulis dari psikolog profesional atau dewan guru.
“Kalau dia usianya kurang, berarti harus ada surat keterangan bahwa anak ini memang siap. Dari siapa? Dari ahlinya. Dari ahlinya, psikolog yang terpercaya nanti di daerah situ pasti tahu ya siapa yang paling punya otoritas atau siapa yang tahu, kemudian bisa diterima di sekolah,” jelas Ditjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen.
Kemendikdasmen juga melarang sekolah mengadakan tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai syarat penerimaan siswa SD.
“Jadi tidak harus 7 tahun, tidak harus punya ijazah TK, tidak boleh ada tes calistung,” imbuh Gogot. (Andi Rahmat)
- Penulis: Andi



