Trump Iran Picu Kecaman dari Partai Republik AS
- account_circle Andi
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

Trump Iran Jadi Sorotan Usai Trump Teken MoU Damai
Jakarta, Tipikal.id — Trump Iran kembali menjadi perhatian publik internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meneken nota kesepahaman (MoU) damai dengan Iran. Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan itu secara jarak jauh pada Rabu (17/6/2026). Langkah tersebut langsung memicu kritik dari sejumlah senator Partai Republik.
MoU itu bertujuan mengakhiri permusuhan di berbagai front konflik, termasuk Lebanon. Selain itu, kedua negara membuka jalan bagi gencatan senjata selama 60 hari, memulihkan aktivitas perdagangan di Selat Hormuz, membahas program rekonstruksi senilai US$300 miliar, serta mencabut sejumlah sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.
-
Trump Klaim Kesepakatan Jaga Stabilitas Ekonomi Global
Trump menegaskan bahwa ia mengambil langkah tersebut untuk menjaga stabilitas ekonomi global dan memastikan pasokan energi dunia tetap berjalan.
“Satu-satunya cara saya bisa bersikap lebih keras adalah jika saya masuk ke sana selama dua atau tiga minggu lagi dan terus membombardir mereka habis-habisan. Benar? Tetapi apa yang akan kita dapatkan? Selat Hormuz tidak akan dibuka. Kita tidak akan memiliki minyak selama berbulan-bulan, Ini adalah jenis hal yang dapat menyebabkan depresi di seluruh dunia,” sebutnya.
Selain itu, MoU tersebut membuka peluang bagi Iran untuk kembali masuk ke perekonomian global jika Teheran memenuhi seluruh komitmen dalam kesepakatan.
-
Senator Republik Sebut MoU Untungkan Iran
Namun, sejumlah senator Partai Republik menilai kesepakatan itu terlalu menguntungkan Iran. Mereka menyoroti pencabutan sanksi, akses pasar minyak, dan rencana dana rekonstruksi yang dinilai memperkuat posisi Teheran.
Senator Republik Bill Cassidy bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai “kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade.”
“Sebelum perang, selat itu terbuka, Iran dihancurkan oleh sanksi-sanksi dan 13 anggota militer masih hidup,” tulisnya di media sosial X.
“Sekarang, 13 warga Amerika tewas, keluarga telah membayar miliaran dolar untuk bahan bakar, sanksi akan dicabut, dan bombardir telah berhenti.”
-
Roger Wicker Soroti Dana Rekonstruksi Iran
Sementara itu, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker menilai MoU tersebut tidak sejalan dengan target yang sebelumnya Trump sampaikan.
“Secara khusus, dana US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran — meskipun tidak didanai oleh pembayar pajak AS — akan membuat pembayaran Iran berdasarkan kesepakatan Presiden Obama tahun 2015 terlihat seperti jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Menurut Wicker, pencabutan sanksi dan pencairan dana rekonstruksi berpotensi memperkuat Iran tanpa jaminan penyelesaian isu pengayaan uranium maupun program rudal balistik.
-
John Cornyn Khawatir Iran Bangun Kembali Persenjataan
Selain itu, Senator Texas John Cornyn menyampaikan kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut hanya menjadi jeda sementara. Menurutnya, Iran bisa memanfaatkan masa jeda itu untuk membangun kembali persenjataannya dan melanjutkan program pengayaan uranium.
-
Demokrat Ikut Kritik Kesepakatan Trump
Di sisi lain, Partai Demokrat juga menolak MoU tersebut. Mereka menilai Trump mengakhiri konflik dengan hasil yang tidak jauh berbeda dari kondisi sebelum perang.
Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan tersebut.
“Semua orang yang membeli bukunya Trump ‘The Art of the Deal’ seharusnya meminta pengembalian dana karena apa yang telah dilakukan Trump di Iran adalah ‘The Art of the Disaster’,” cetusnya dalam pidato sidang pleno.
Meski menghadapi kritik dari kedua kubu politik, Trump tetap mempertahankan keputusannya. Ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut masih bersifat awal dan Amerika Serikat dapat kembali mengambil tindakan militer apabila negosiasi lanjutan gagal mencapai hasil yang diinginkan.
- Penulis: Andi



